SLN.com, JAKARTA — Angka resmi terakhir tentang jumlah populasi etnis Tionghoa di Indonesia tercatat dalam Sensus Penduduk 2010 (SP2010) yang dirilis Badan Pusat Statistik. Dalam publikasi Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia, jumlah warga negara yang mengidentifikasi diri sebagai suku bangsa Tionghoa mencapai 2.832.510 jiwa, atau sekitar 1,20% dari total penduduk saat itu.
Data etnis tersebut tersedia hingga tingkat provinsi. Namun, karena sekitar 93% populasi Tionghoa tinggal di wilayah perkotaan, sejumlah kota besar tercatat menjadi pusat konsentrasi utama. Berikut lima kota dengan estimasi populasi etnis Tionghoa terbesar berdasarkan kombinasi data provinsi SP2010 dan kajian demografi urban.
- Jakarta
Di ibu kota, jejak komunitas Tionghoa dapat ditelusuri sejak era Batavia. SP2010 mencatat populasi Tionghoa di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 632.372 jiwa, tertinggi secara nasional. Karena seluruh wilayah DKI bersifat urban, estimasi jumlah di Jakarta berkisar 500.000–632.000 jiwa, sekitar 6–7% dari total penduduk kota. Kawasan Glodok dan sekitarnya menjadi salah satu titik historis keberadaan komunitas ini.
- Medan
Sebagai kota pelabuhan penting di Sumatera, Medan memiliki sejarah panjang interaksi dagang lintas bangsa. Di Provinsi Sumatera Utara, jumlah etnis Tionghoa mencapai 340.320 jiwa. Diperkirakan 150.000–200.000 jiwa berada di Kota Medan, setara 9–10% populasi kota. Komunitas Hokkien menjadi salah satu kelompok dominan di wilayah ini.
- Surabaya
Di Jawa Timur, SP2010 mencatat 244.393 jiwa warga Tionghoa. Surabaya sebagai pusat perdagangan diperkirakan menampung 100.000–150.000 jiwa, atau sekitar 7–8% penduduk kota. Kawasan Kya-Kya dan Pecinan Surabaya menjadi bagian dari sejarah urban yang masih dapat ditelusuri hingga kini.
- Bandung
Provinsi Jawa Barat mencatat 254.920 jiwa populasi Tionghoa. Di Kota Bandung, estimasi berkisar 80.000–100.000 jiwa, sekitar 4–5% dari total penduduk kota. Sejumlah kawasan perdagangan lama menjadi titik konsentrasi komunitas ini.
- Semarang
Sebagai kota pelabuhan tua di Jawa Tengah, Semarang memiliki sejarah migrasi Tionghoa yang panjang. Meski SP2010 tidak merinci hingga tingkat kota, estimasi demografi menunjukkan populasi Tionghoa di Semarang berada di kisaran 50.000–70.000 jiwa, sekitar 4–5% dari penduduk kota.
Distribusi ini memperlihatkan pola yang relatif seragam, konsentrasi di kota-kota besar, terutama yang memiliki sejarah pelabuhan dan perdagangan. Selain lima kota tersebut, Provinsi Kalimantan Barat juga mencatat proporsi tinggi, yakni 358.451 jiwa atau sekitar 10% dari total penduduk provinsi, terutama di Pontianak dan Singkawang.
Karena Sensus Penduduk 2020 tidak lagi mencatat data etnis, SP2010 menjadi rujukan resmi terakhir yang tersedia. Sejumlah studi memperkirakan pertumbuhan populasi etnis Tionghoa mengikuti tren nasional dengan laju relatif stabil.
Angka-angka ini memperlihatkan bagaimana komunitas Tionghoa tersebar dan berakar di berbagai pusat urban Indonesia, membentuk bagian dari dinamika sejarah, ekonomi, dan sosial kota-kota tersebut hingga hari ini.
Bagaimana dengan Pontianak dan Singkawang?
Provinsi Kalimantan Barat mencatat 358.451 jiwa etnis Tionghoa, tertinggi kedua secara nasional dan tertinggi secara persentase (sekitar 10%). Dua kota yang sering disebut dalam konteks ini adalah Pontianak dan Singkawang.
Singkawang dikenal memiliki proporsi etnis Tionghoa yang sangat tinggi dibanding kota lain di Indonesia. Namun, karena total jumlah penduduk kota tersebut lebih kecil dibanding Jakarta, Medan, atau Surabaya, maka secara jumlah absolut tidak masuk dalam lima besar nasional.
Dengan kata lain, daftar ini disusun berdasarkan total populasi terbesar (absolut), bukan berdasarkan persentase tertinggi. Jika menggunakan pendekatan persentase, komposisi peringkat dapat berbeda.
Penegasan metodologi ini penting untuk menghindari kesan bahwa kota-kota di Kalimantan Barat kurang signifikan. Secara proporsional, wilayah tersebut justru memiliki konsentrasi komunitas Tionghoa yang kuat dan historis dalam lanskap demografi Indonesia.












