SLN.com, JAKARTA — Di pusat perbelanjaan ibu kota, lampion merah sudah mulai tergantung rapi dan jadwal pertunjukan barongsai yang mengundang akan mengundang kerumunan pun sudah terpampang di sudut-sudut media informasi. Namun di gang-gang sempit kawasan permukiman lama, perayaan Imlek biasanya berlangsung lebih tenang. Tanpa panggung besar dan tanpa sorotan kamera, sejumlah keluarga tetap menjalankan tradisi dengan cara yang sederhana di tahun-tahun sebelumnya.
Di sebuah rumah di kawasan Glodok, Jakarta Barat, misalnya, akan ditata meja kayu kecil yang telah disiapkan sejak pagi. Di atasnya tersaji teh hangat, jeruk, dan kue keranjang yang dipotong tipis. Wati, perempuan generasi kedua keturunan Tionghoa yang ditemui redaksi, Senin (16/02) di Jakarta Selatan, mengatakan perayaan tahun baru lunar baginya adalah soal berkumpul, bukan kemeriahan.
Imlek, yang mengikuti kalender lunar, telah menjadi bagian dari sejarah panjang komunitas Tionghoa di Indonesia. Sejarawan mencatat, perayaan ini pernah berlangsung secara terbatas di ruang privat pada periode tertentu dalam sejarah nasional. Setelah perubahan kebijakan pada awal 2000-an, Imlek kembali dirayakan terbuka dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan komunitas Tionghoa tersebar di berbagai daerah, dari Sumatera Utara hingga Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara. Di sejumlah kota kecil, perayaan Imlek berlangsung di kelenteng setempat dengan doa bersama, tanpa dekorasi berlebihan.
Di Singkawang, Kalimantan Barat, yang dikenal dengan festival Cap Go Meh-nya, sebagian warga memilih merayakan di rumah bersama keluarga inti. Seorang pedagang kue keranjang di pasar tradisional setempat mengatakan pesanan datang dari pelanggan lama yang mempertahankan tradisi meski tidak merayakan secara besar-besaran.
Cerita serupa terdengar di Medan dan Semarang. Di sana, perayaan berlangsung dengan sembahyang keluarga dan makan malam sederhana. Tidak semua keluarga mengunggah foto ke media sosial. “Yang penting kumpul,” ujar seorang warga di Semarang saat ditemui usai sembahyang di kelenteng lingkungan.
Pengamat sosial dari sejumlah perguruan tinggi menyebut fenomena ini sebagai bentuk kontinuitas budaya dalam ruang domestik. Tradisi tetap berjalan meski tidak selalu tampil di ruang publik digital. Dalam kajian tentang diaspora Tionghoa di Indonesia, disebutkan bahwa keluarga menjadi pusat transmisi nilai, termasuk saat merayakan tahun baru lunar.
Imlek juga menjadi momentum ekonomi bagi pelaku usaha kecil. Di pasar-pasar tradisional, penjual jeruk, kue keranjang, dan hiasan sederhana mencatat peningkatan pembeli menjelang perayaan. Namun skala transaksi berbeda dengan pusat perbelanjaan modern.
Di tengah tren konten viral dan dekorasi tematik di media sosial, perayaan di ruang-ruang kecil itu jarang terlihat. Tidak ada latar dekorasi megah, hanya percakapan antaranggota keluarga dan doa yang dipanjatkan dalam hening.
Imlek di Indonesia hari ini bergerak di dua ruang sekaligus: ruang publik yang meriah dan ruang domestik yang senyap. Keduanya berjalan berdampingan, menyimpan cerita berbeda tentang cara sebuah tradisi dipelihara dari generasi ke generasi.












