SLN.com, JAKARTA — Ketika Indonesia belum merdeka dan perdebatan ideologi menguat, Tan Malaka menulis Madilog sebagai tawaran metode berpikir sistematis. Salah satu bagian yang kerap disorot adalah pembahasannya tentang Nasrani dan Yahudi.
Dalam Madilog Nasrani-Jahudi, Tan Malaka membedah agama melalui pendekatan materialisme dan dialektika. Ia mengaitkan perkembangan ajaran dengan kondisi sejarah dan dinamika masyarakat.
Madilog lahir dalam konteks kolonial, ketika arus nasionalisme, sosialisme, dan gerakan keagamaan saling berkelindan. Tan Malaka menilai pentingnya logika sebagai alat analisis sosial.
Baca Juga : Tan Malaka, Agama, dan Madilog: Membaca Nasrani–Yahudi Secara Rasional
Buku tersebut pertama kali terbit pada 1943 dan kemudian beredar luas setelah Indonesia merdeka. Dalam sejumlah studi sejarah pemikiran, Madilog disebut sebagai salah satu fondasi penting dalam tradisi intelektual modern Indonesia.
Pembahasan tentang agama dalam Madilog hingga kini masih menjadi bagian dari diskursus akademik, terutama terkait hubungan antara rasionalitas, sejarah, dan perkembangan ideologi di Indonesia.












