SLN.com— Setiap 14 Februari, linimasa media sosial di Indonesia dipenuhi bunga, cokelat, dan potret pasangan muda yang merayakan Hari Valentine. Namun jauh sebelum tradisi itu populer lewat budaya Barat, sejumlah daerah di Indonesia telah mengenal ritual yang memuat simbol kasih sayang, perjodohan, dan ekspresi cinta secara kolektif.
Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, masyarakat Sasak mengenal tradisi Bau Nyale. Festival ini digelar setiap tahun sekitar Februari–Maret, mengikuti penanggalan Sasak. Mengutip kajian budaya dalam buku Tradisi Bau Nyale di Lombok karya Lalu Wacana (Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, 2015), ritual menangkap cacing laut yang diyakini sebagai jelmaan Putri Mandalika bukan sekadar perayaan mitos, melainkan ruang pertemuan sosial anak muda.
Dalam praktiknya, Bau Nyale kerap menjadi momentum perjumpaan dan perkenalan antar pemuda dan pemudi dari berbagai kampung. Peneliti budaya menyebut, fungsi sosialnya mirip dengan festival musim semi di berbagai negara: mempertemukan, membuka komunikasi, dan merayakan harapan akan hubungan baru.
Tradisi serupa juga ditemukan di Sulawesi Selatan melalui ritual Mappacci dalam budaya Bugis-Makassar. Prosesi yang menjadi bagian dari rangkaian pernikahan ini sarat simbol penyucian diri sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Dalam buku Manusia Bugis karya Christian Pelras (1996), dijelaskan bahwa nilai siri’ dan harga diri dalam budaya Bugis membentuk cara pandang romantisme yang serius dan terhormat bukan sekadar ungkapan simbolik.
Sementara itu, dalam konteks yang lebih kontemporer, sejumlah survei tentang kebahagiaan dan relasi sosial menunjukkan bahwa budaya kolektif Indonesia memiliki indeks kohesi sosial yang tinggi. Laporan World Values Survey menempatkan Indonesia sebagai negara dengan orientasi kekeluargaan dan relasi interpersonal yang kuat. Dalam konteks ini, ekspresi kasih sayang tidak selalu terikat pada satu tanggal tertentu.
Valentine sendiri masuk ke Indonesia melalui pengaruh globalisasi budaya pop sejak dekade 1980–1990-an. Perayaan ini berkembang di kota-kota besar, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Namun, respons masyarakat beragam. Ada yang merayakan sebagai momen apresiasi kasih sayang, ada pula yang mengkritik karena dianggap tidak sesuai dengan nilai lokal atau agama tertentu.
Antropolog Universitas Indonesia, dalam sejumlah kajian tentang globalisasi budaya, menyebut bahwa masyarakat Indonesia cenderung melakukan “lokalisasi” terhadap budaya asing: mengambil bentuk luarnya, tetapi menyesuaikan makna dan praktiknya dengan konteks lokal.
Dengan demikian, jika Valentine dipahami sebagai perayaan kasih dan perhatian, Indonesia sesungguhnya telah memiliki tradisi yang lebih dahulu mengafirmasi nilai itu—meski dalam rupa yang berbeda.
Pertanyaannya, di tengah arus globalisasi dan komersialisasi, apakah makna kasih sayang masih dipahami sebagai relasi yang bertanggung jawab, atau sekadar simbol musiman yang datang dan pergi setiap 14 Februari?
(NI)












