Budaya  

Terungkap, Tradisi Tua Minahasa Ini Masih Bertahan di Tengah Zaman Modern

Warga di salah satu desa yang ada di Sulawesi Utara sedang bergotong royong atau dikenal dengan istilah Mapalus. Sumber Foto: Laman Website Desa Motoling.
Warga di salah satu desa yang ada di Sulawesi Utara sedang bergotong royong atau dikenal dengan istilah Mapalus. Sumber Foto: Laman Website Desa Motoling.

SLN.com, Manado— Di dataran tinggi Sulawesi Utara, masyarakat Minahasa mewarisi sebuah tradisi yang telah melintasi generasi: Mapalus. Praktik kerja bersama ini masih dijalankan hingga kini, baik di desa-desa maupun di kota seperti Tomohon, Likupang dan Manado.

 

Dalam pengertian umum, Mapalus dipahami sebagai kegiatan gotong-royong antarkelompok masyarakat untuk mencapai tujuan bersama. Secara etimologis, istilah ini kerap dijelaskan berasal dari kata “ma” dan “palus”, yang menggambarkan aktivitas yang dilakukan bersama hingga selesai.

 

Sejarah Mapalus berakar pada pola kerja kolektif di sektor pertanian. Pada masa lalu, warga berkumpul untuk membuka lahan, membersihkan kebun, hingga memanen hasil bumi secara bersama-sama. Tradisi ini tumbuh sebagai kebiasaan sosial dalam kehidupan sehari-hari, bukan sebagai organisasi formal.

 

Seiring perkembangan sosial dan ekonomi, praktik Mapalus tidak terbatas pada sektor pertanian. Sejumlah catatan sejarah budaya menunjukkan bahwa bentuknya berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Mapalus diterapkan dalam pembangunan rumah, kerja bersama nelayan, hingga dukungan sosial pada peristiwa duka dan pernikahan.

 

Dalam praktik modern, dikenal beberapa bentuk seperti Mapalus tani, Mapalus nelayan, Mapalus uang, serta Mapalus bantuan untuk duka dan perkawinan. Variasi ini menunjukkan adaptasi tradisi lama dalam konteks sosial yang lebih luas.

 

Nilai-nilai yang melekat dalam Mapalus meliputi solidaritas, partisipasi, tanggung jawab, disiplin, kesetaraan, dan saling percaya. Secara historis, nilai tersebut berakar pada asas kekeluargaan, religiusitas, serta persatuan dalam adat Minahasa.

 

Selain sebagai pola kerja kolektif, Mapalus juga berfungsi menjaga kohesi sosial. Dalam masyarakat Minahasa yang plural, kegiatan gotong-royong menjadi ruang interaksi antarwarga dengan latar belakang etnis dan agama yang beragam. Aktivitas bersama itu memperkuat jaringan sosial serta mendorong partisipasi aktif dalam berbagai situasi kehidupan.

 

Sejumlah penelitian kualitatif mencatat bahwa asas kerja sama, musyawarah mufakat, religiusitas, persatuan, dan kesetaraan tetap dipertahankan meskipun bentuk praktiknya berbeda di tiap komunitas. Nilai tersebut dinilai berperan dalam cara masyarakat merespons tantangan sosial dan perubahan zaman.

 

Keberlangsungan Mapalus terlihat dalam kegiatan rutin masyarakat saat ini. Di sejumlah wilayah Minahasa, gotong-royong masih dilakukan untuk kepentingan ekonomi maupun sosial, mencerminkan kesinambungan tradisi di tengah dinamika modernisasi.

 

Sebagai warisan budaya daerah, Mapalus tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi tetap hadir dalam praktik keseharian masyarakat Minahasa. Tradisi ini menunjukkan bahwa pola kehidupan kolektif yang dibangun atas dasar kebersamaan masih dipertahankan di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang terus berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *