
Oleh: Nick Irwan/Redaksi
Sebuah video beredar luas di media sosial sejak akhir pekan lalu. Seorang perempuan terduduk di aspal, memeluk tubuh kecil yang terbaring lemas di pangkuannya. Tangisnya pecah, berulang-ulang menyebut satu kalimat pendek, “di rumah tidak ada nasi”. Di sekelilingnya, kendaraan berhenti. Beberapa orang berdiri terpaku. Kamera ponsel merekam tanpa banyak kata.
Warganet kemudian mengaitkan peristiwa itu dengan seorang anak perempuan penjual tisu yang kerap terlihat di persimpangan jalan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam narasi yang menyertai unggahan video, anak tersebut disebut tertabrak alat berat saat berjualan tisu. Potongan cerita menyebar cepat, tentang pamit kepada ibu, tentang janji membawa pulang beras, tentang usia yang belum genap belasan tahun.
Unggahan lain memperlihatkan sudut lokasi dari jarak berbeda. Lampu merah, marka jalan, dan kerumunan warga menjadi latar yang berulang. Tak sedikit komentar mempertanyakan keberadaan alat berat di ruas jalan kota. Sebagian lain mempertanyakan mengapa seorang anak berada di jalanan pada malam hari. Namun mayoritas komentar berhenti pada satu alasan yang sama, diulang berkali-kali, karena tidak ada nasi di rumah.
Dari pengamatan redaksi atas percakapan digital, tragedi ini cepat bergeser dari peristiwa kecelakaan menjadi simbol kemiskinan dan kerentanan anak. Banyak pengguna media sosial membandingkannya dengan anak-anak lain yang bekerja di jalanan kota, menjual tisu, mengamen, atau meminta uang di lampu merah. Dalam arus komentar, empati bercampur kemarahan. Ada yang menyalahkan orang tua, ada yang menunjuk negara, ada pula yang mempertanyakan sikap warga sekitar yang memilih hanya merekam.
Media sosial hanya menyajikan fragmen. Video-video itu tidak memberi ruang untuk konteks yang utuh. Ia memadatkan tragedi menjadi potongan emosi, tangis, tubuh kecil, dan kalimat tentang nasi. Meski demikian, fragmen-fragmen itu cukup untuk menunjukkan satu kenyataan, bahwa seorang anak berada di ruang publik berisiko tinggi, menjalani aktivitas ekonomi demi memenuhi kebutuhan paling dasar.
Kalimat “tidak ada nasi di rumah” bekerja sebagai penjelasan sekaligus tudingan. Ia merangkum persoalan panjang tentang kemiskinan, perlindungan sosial, dan keselamatan anak ke dalam satu sebab yang sulit disangkal. Dalam peredaran cepat di linimasa, kalimat itu menjadi penanda dari absennya jalan pulang yang aman bagi seorang anak.
Peristiwa di Kendari menunjukkan bagaimana media sosial kini menjadi ruang pertama tempat tragedi dibaca dan dimaknai. Sebelum laporan resmi hadir, publik telah lebih dulu membentuk kesimpulan dan empati. Yang tersisa dari video-video itu bukan hanya duka seorang ibu, melainkan pertanyaan yang menggantung: mengapa seorang anak harus turun ke jalan agar keluarganya bisa makan. Pertanyaan itu berputar di layar, tanpa jawaban yang segera datang.










