
Kota Bekasi- Cahaya sore yang keemasan menyelinap di antara deretan pohon rindang di kompleks Sekolah Mahanaim, menyapu halaman yang baru saja ditinggalkan riuh rendah siswa. Di kantin sekolah, Markus Manulang bertutur sambil memperlihatkan sejumlah tumpukan piagam penghargaan berprestasi yang dikoleksi siswa Sekolah Mahanaim Kota Bekasi. Bukan hanya sekedar sorot mata yang bangga akan anak didiknya, piagam-piagam penghargaan itu sebagai penanda sebuah perjalanan.
“Ini hanya simbol. Esensinya ada di proses menemukan ‘percikan’ dalam diri setiap anak,” ujarnya, suaranya tenang namun penuh keyakinan.
Sejak memimpin SMP Mahanaim pada 2014, sebagai Kepala Sekolah, pria yang akrab disapa Pak Markus ini telah mengukuhkan empat pilar visi Mahanaim sebagai kompas pendidikan, Takut akan Tuhan, Kepemimpinan, Pengembangan Bakat, dan Keunggulan Akademis. Baginya, pilar-pilar ini bukan sekadar slogan saja melainkan denyut nadi keseharian yang dijalankan dengan disiplin dan kasih.
“Kami ingin anak-anak bukan hanya pandai secara kognitif. Kami memanggil mereka untuk menemukan talenta, berkembang, dan akhirnya berprestasi, sebagai wujud memuliakan Sang Pencipta,” tuturnya kepada tim redaksi, Rabu sore (04/02).
Salah satu wujud nyata dari filosofi itu adalah ekstrakurikuler. Sekolah ini tidak sekadar menyediakan, tetapi secara strategis menghubungkan 15 hingga 20 pilihan ekskul, dari Matematika Olimpiade hingga Tinju Amatir dengan peta kompetisi nyata.
“Setiap latihan punya tujuan. Kami membina agar siswa siap ketika pintu kejuaraan, dari tingkat kota hingga nasional, terbuka,” jelas Markus.
Dengan rasio guru dan siswa yang terjaga (lebih dari 30 pendidik untuk 300 siswa, dengan rata-rata 24 anak per kelas), pendekatan yang hampir personal ini memungkinkan pembinaan optimal. Hasilnya? Sebuah daftar prestasi yang panjang dan beragam, membungkam segala bentuk skeptisisme tentang sekolah yang hanya faksional.

Prestasi siswa-siswi Mahanaim ibarat mosaik yang berwarna-warni, mencerminkan keberagaman bakat yang diteladani.
Di ring tinju, nama Yuanitha Margaretha (Kelas 9) berkibar. Di usia belia, ia sudah menyabet gelar Juara 1 Women’s Junior di Kejurnas Tinju Amatir 2025 di Palu, setelah sebelumnya mendominasi kejuaraan regional.
Sementara di tatap muka taekwondo, tiga petarung muda, Luiz Suarez H. Sipahutar, Jeremia Rafael Sihombing, dan Aryo Arjen Jehezkiel T. Secara konsisten menempatkan nama mereka di podium turnamen bergengsi, termasuk CNN Indonesia Taekwondo Championship yang mengantarkan mereka membawa pulang Piala Menpora.
Tidak kalah gemilang, Elyoenai Marpaung (Kelas 8) membuktikan ketajaman analitisnya dengan meraih Juara 3 OSN IPS tingkat Kota Bekasi. Lapangan olahraga juga menjadi saksi kejayaan Tim Basket Putra KU-14 sebagai Juara 3 PERBASI CUP Kota Bekasi, serta torehan Matthew Caraen di kolam renang dan Steven Fernando di lapangan hijau.
“Setiap anak punya medan juaranya sendiri. Tugas kami adalah mempersiapkan dan mendampingi mereka di sana,” tambah Markus.
Lebih dari sekadar mengejar piala, Sekolah Mahanaim Kota Bekasi membangun sebuah ekosistem berprestasi jangka panjang. Pembinaan bakat dirancang berjenjang, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Program seperti Pekan Seni yang melibatkan seluruh unit pendidikan menjadi bukti nyata bahwa ekspresi dan apresiasi adalah bagian tak terpisahkan dari kurikulum.
“Impian kami sederhana, melihat setiap anak bersinar dengan caranya masing-masing. Setiap prestasi, besar atau kecil, adalah buah dari proses yang memuliakan dan menjadi berkat,” pungkas Markus, sementara senja mulai menyapu lengkung langit Kota Bekasi yang sore itu tengah rintik hujan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang sering kali terjebak pada polemik, Sekolah Mahanaim tampil dengan narasi yang berbeda, sebuah narasi tentang kerja nyata, pembinaan holistis, dan keyakinan bahwa setiap anak dilahirkan untuk menjadi juara di bidangnya masing-masing.
Di sini, piala memang banyak, tetapi yang lebih banyak lagi adalah cerita tentang proses pembentukan karakter yang tak tercatat di papan skor. (NI).











