suaralintasnusantara.com – Persekutuan Doa Ruth (PD Ruth) merayakan Natal pada Senin, Jakarta (15/12), dengan mengangkat refleksi iman tentang kelahiran Yesus Kristus sebagai Sang Juruselamat dunia. Perayaan Natal tersebut berlangsung dalam suasana khidmat melalui ibadah, pujian dan penyembahan, serta penyampaian firman Tuhan yang mengajak jemaat memaknai Natal sebagai karya keselamatan Allah bagi umat manusia.
Ibadah Natal dipimpin oleh Pdt. Rudi Nainggolan yang menyampaikan kotbah bertema “Mengapa Yesus Lahir ke Dunia”, berdasarkan Injil Matius 1:18–25. Dalam khotbahnya, Pdt. Rudi menegaskan bahwa kelahiran Yesus Kristus bukanlah peristiwa biasa, melainkan bagian dari rencana Allah yang telah ditetapkan sejak manusia jatuh ke dalam dosa.
“Kelahiran Yesus adalah penggenapan janji Allah untuk memulihkan manusia yang telah berdosa,” ujar Pdt. Rudi. Ia menjelaskan bahwa sejak awal Allah telah menyatakan janji keselamatan, yang kemudian digenapi melalui kelahiran Yesus Kristus ke dunia sebagai Juruselamat.
Menurutnya, Yesus datang membawa hidup dan pemulihan bagi manusia. Hal tersebut sejalan dengan firman Tuhan dalam Yohanes 10:10 yang menyatakan bahwa Yesus datang supaya manusia memperoleh hidup, bahkan hidup yang berkelimpahan. Penggenapan janji Allah ini, lanjutnya, telah dinubuatkan sejak Perjanjian Lama, mulai dari janji kepada Abraham, Daud, hingga nubuat para nabi.
“Sekarang kita sebagai orang percaya, sebagai Israel rohani, dipanggil untuk menghidupi maksud kelahiran Yesus, yaitu menjadi terang dunia dengan iman yang tetap teguh di dalam Kristus,” katanya.

Lebih lanjut, Pdt. Rudi menegaskan bahwa kelahiran Yesus bertujuan untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa. Ia menekankan bahwa keselamatan hanya dapat diterima melalui iman kepada Yesus Kristus. “Yesus mati di kayu salib untuk memikul dosa manusia. Kasih karunia Allah jauh lebih besar daripada dosa, dan hanya melalui Yesuslah keselamatan itu diperoleh,” tegasnya.
Ia juga menguraikan bahwa kelahiran Yesus membawa sukacita besar bagi semua orang yang menyambut-Nya. Sukacita tersebut, menurutnya, tergambar dalam kisah para gembala, orang-orang Majus, Maria, dan Simeon sebagaimana dicatat dalam Injil. “Natal seharusnya disambut dengan sukacita. Karena itu, bagi banyak orang percaya, Natal dimaknai sebagai hari pesta iman dan perayaan pengharapan,” ujarnya.
Sebaliknya, mereka yang menolak kehadiran Yesus justru mengalami kehancuran. Pdt. Rudi mencontohkan Raja Herodes sebagai gambaran penolakan terhadap Kristus yang berujung pada kehancuran hidup.
Dalam kotbahnya, Pdt. Rudi juga menegaskan bahwa kelahiran Yesus merupakan bukti nyata bahwa Allah beserta manusia, Immanuel. “Allah berinkarnasi menjadi manusia dan diam di antara kita agar manusia dapat mengenal Allah secara langsung,” katanya. Melalui Yesus Kristus, umat percaya diajar untuk hidup dalam kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada kehendak Allah.
Menutup kotbahnya, Pdt. Rudi mengajak seluruh jemaat menjadikan Natal sebagai momentum perubahan hidup. “Kita dipanggil untuk meneladani Yesus—hidup menjauhi dosa, rela berkorban, menolak kekerasan, serta mengasihi semua orang tanpa batas,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan panggilan iman untuk hidup semakin serupa dengan Kristus, Sang Juruselamat yang telah lahir ke dunia demi keselamatan umat manusia. (el)











