Update, Transparan dan Teraktual
Religi  

Gereja Bangkit Menjadi Garda Kemanusiaan: PGIW Kalteng Latih Jemaat Hadapi Situasi Darurat dan Bencana

Suaralintasnusantara.com — Gereja di Kalimantan Tengah memasuki babak baru dalam kiprah pelayanan sosial. Tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, gereja kini melangkah lebih jauh menjadi pusat edukasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Hal ini tampak dalam pelatihan “Gereja Tangguh Bencana”(GTB) yang digelar Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Kalimantan Tengah dengan dukungan PGI Pusat serta Jejaring Komunitas Kristen Penanggulangan Bencana Indonesia (JARKOMKRIS PBI), 24–26 November 2025 di GPIB Ebenezer, Palangka Raya.

Pelatihan perdana yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti 47 peserta dari lima wilayah: Palangka Raya, Seruyan, Barito Selatan, Barito Timur, dan Gunung Mas. Menariknya, kegiatan ini didominasi oleh kaum muda gereja, menunjukkan meningkatnya kesadaran generasi baru terhadap isu kemanusiaan dan bencana.

Gereja Bukan Hanya Berdoa, Tapi Berperan Nyata

Ketua PGIW Kalteng Pdt. Ayang Kurniawan, menegaskan bahwa gereja perlu hadir sebagai kekuatan sosial bagi masyarakat.

“Gereja bukan hanya tempat berdoa. Gereja dipanggil menjadi garam dan terang. Pelayanan kita harus menyentuh persoalan nyata seperti kemiskinan dan kebencanaan, yang bisa menimpa siapa saja tanpa memandang agama atau asal gereja,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pertanyaan seperti “Mengapa gereja mengurus penanggulangan bencana padahal sudah ada pemerintah?” sering muncul. Namun, menurutnya, gereja justru harus menjadi bagian dari barisan pelaku kemanusiaan yang membangun ketangguhan masyarakat.

JARKOMKRIS Tekankan Kolaborasi dan Peran Media

Narasumber pelatihan dari JARKOMKRIS PBI, Banu Subagyo, menegaskan pentingnya kerja bersama lintas sektor, termasuk wartawan.

“Dalam penanggulangan bencana ada lima pilar: pemerintah, masyarakat, kampus, swasta, dan media. Peran wartawan tidak boleh diremehkan karena mereka membangun narasi harapan bagi penyintas,”katanya.

Ia juga menyoroti tiga ancaman utama di Kalimantan Tengah: karhutla, banjir, dan kerusakan ekologiakibat aktivitas ilegal.

Menurutnya, pelatihan ini mendorong gereja membentuk struktur respons bencana yang permanen, bukan tim darurat yang hanya dibentuk ketika bencana sudah terjadi.

Program Jangka Panjang Menuju Gereja Tangguh

Perwakilan PGI Pusat, Herman, mengatakan bahwa pelatihan GTB merupakan bagian dari strategi besar membangun gereja yang relevan dan siap membantu masyarakat.

“Kami mendorong gereja menjadi pemberi berkat, bukan sekadar penerima bantuan ketika bencana terjadi,”jelasnya.

Setelah pelatihan ini, akan ada tiga opsi lanjutan: pelatihan tingkat lanjut di Yogyakarta atau Jakarta, peningkatan kapasitas peserta pada tahun berikutnya, serta pelatihan dasar untuk jemaat gereja secara luas.

Bangun Kesadaran Baru: Bencana Bisa Terjadi Kapan Saja

Peserta pelatihan mendapatkan materi dari BPPBD Kalimantan Tengah terkait penanganan kondisi darurat, respons awal serangan jantung dan kecelakaan di lingkungan gereja, serta identifikasi kelompok rentan — anak, perempuan, dan penyandang disabilitas.

Pelatihan ini dianggap penting karena dalam beberapa tahun terakhir banyak gereja dan rumah jemaat mengalami banjir, namun kesadaran mitigasi bencana masih sangat minim.

“Firman Tuhan mengatakan ‘berjaga-jagalah’, artinya bersiap sebelum sesuatu terjadi,” tutur Pdt Ayang. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *