suaralintasnusantara.com — Ibadah penutupan Gathering Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) DKI Jakarta 2025 di Taman Palem Resort, Bogor, ditandai dengan pesan tegas dari Ketua Umum PGLII Pdt. Dr. RB. Rory.
Dalam khotbahnya, ia mengingatkan para hamba Tuhan akan pentingnya integritas dan keakuratan data gereja penerima dana hibah Bantuan Operasional Tempat Ibadah (BOTI).
“Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah teladan integritas. Mereka menolak menajiskan diri walau dihadapkan pada rayuan dan tekanan. Sebagai hamba Tuhan, kita pun harus tegak lurus, termasuk dalam memastikan data gereja penerima BOTI benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Pdt. Rory di hadapan lebih dari 400 peserta.
Tiga Hari Penuh Inspirasi dan Pembekalan
Acara Gathering yang berlangsung selama tiga hari, Rabu–Jumat (6–8 Agustus 2025), resmi dibuka oleh Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM (BMBPSDM) Kemenag RI, Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdani, STP, MT, mewakili Menteri Agama RI.
Mengusung tema “Integrity for Him”, kegiatan ini dihadiri 46 sinode dan menghadirkan pembicara lintas bidang. Ketua Umum PGLII Pusat, Pdt. Tommy O Lengkong, bersama jajaran pengurus wilayah, menyampaikan materi seputar integritas, kekudusan hidup, dan kerukunan antar-sinode maupun antarumat beragama.
Perwakilan BKKBN, Dr. Edi Setiawan, memaparkan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) untuk mengatasi fenomena fatherless.
Habib Jindan Bin Novel Bin Salim, penasihat Presiden, membagikan perspektif sejarah para nabi dalam Al-Quran dan Alkitab, menekankan pentingnya saling menghormati perbedaan. Sementara itu, pakar hukum memberikan pembekalan advokasi gereja agar mampu membela hak jemaat.
Aturan BOTI 2025 dan Pemutakhiran Data
Hari terakhir diisi penjelasan Kepala Sub Biro Dikmental Pemprov DKI Jakarta, Ust. Muchlis, terkait pedoman pemberian dana hibah BOTI. PGLII DKI sebagai koordinator resmi diharapkan mematuhi prosedur dan persyaratan baru, termasuk kewajiban memiliki PM1 dari kelurahan selain SKTL dari Kementerian Agama.
“PM1 menjadi kunci verifikasi keberadaan gereja. Ini bukan sekadar syarat administratif, tapi langkah menuju basis data gereja yang akurat di Jakarta,” jelasnya. Tahun ini PGLII DKI mendapat kuota 195 penerima dana BOTI sesuai kesepakatan tujuh aras gereja dengan Pemprov DKI.
Ketua Panitia sekaligus Sekretaris Umum PGLII DKI, Pdt. Dr. Marthen Neolaka, menegaskan Gathering akan tetap digelar setiap tahun, terlepas dari peran sebagai koordinator BOTI. “Persekutuan ini bukan hanya wadah pembekalan, tapi juga ruang mempererat sinode-sinode dalam semangat memberitakan Injil,” ujarnya.
Antusiasme Peserta Meningkat
Menurut panitia, jumlah peserta melebihi target. Dari 400 kuota yang disiapkan, pendaftaran mendekati 500 orang, termasuk on the spot. Hal ini membuat panitia bekerja ekstra dalam penyiapan akomodasi dan perlengkapan, namun tetap bersyukur atas dukungan tim yang solid.
Wakil Ketua PGLII DKI, Pdt. Immanuel de Fretes, menilai Gathering ketiga ini paling ramai dibanding dua edisi sebelumnya. Ia mengusulkan tahun depan kegiatan ini digabung dengan Musyawarah Wilayah PGLII DKI agar lebih variatif.
Senada, Pdt. Dr. Johny E. Tambariki menilai kegiatan ini bermanfaat membangun komunikasi antar-sinode dan gereja lokal. “Informasi dari para pembicara valid dan jelas, hubungan antarpeserta terjalin baik, dan semangat memberitakan Injil semakin kuat,” tuturnya.
Dengan berakhirnya Gathering 2025, PGLII DKI Jakarta berharap pesan integritas dan semangat persekutuan dapat terus menginspirasi para hamba Tuhan dalam pelayanan mereka di tengah masyarakat.











